Diposkan pada Journey to Samara

Proses Ini

Tepat menjelang malam ke-27 Ramadan, aku menerima sebuah biodata laki-laki yang insyaallah sholeh. Saat itu, aku memang sudah selesai dengan perasaanku kepada lelaki lain.

Malam ke-25 Ramadan, perasaan itu telah usai seiring kepasrahanku kepada-Nya. Aku pasrah tentang segala hidup, terlebih jodoh. Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit, seperti nanti gimana ya atau mungkin ngga ya. Tidak, aku tidak ingin begitu. Aku berusaha untuk pasrah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan keinginan baik (insyaallah) dan doa-doaku.

 

Dua hari setelah kepasrahan itu, tidak disangka guru ngajiku dulu menawarkan seorang lelaki. Hanya beberapa jam setelah percakapan via WA, aku sudah menerima dan membaca biodata itu. Biodataku sendiri, jika tidak salah, dikirim ke guru ngajiku itu lepas terawih.

Lalu, pagi ini, hari ke-29, aku memberikan jawaban tentang lanjutkan proses ini atau tidak. Jawaban itu diperoleh setelah istiqoroh, doa-doa panjang, dan perenungan. Apa pun hasilnya nanti, ya atau tidak lanjutnya proses ini, hidupku akan sama: sama-sama berproses menjadi baik.

Diposkan pada Curhat

Menyegarkan Diri

Jpeg

Agustus nanti selepas resign dari kantor, ingin rasanya tinggal di desa yang udaranya sejuk dan bisa lihat gunung. Pulang ke Jakarta kalo ada meeting di kantor aja. Ya, seminggu sekali atau dua minggu sekali.

 

Kepenatan Jakarta dan rumah, cukup membuatku pusing. Stres lama-lama. Jadi, aku ingin menepi sejenak. Sekitar 1-3 bulan atau mungkin 6 bulan. Haha… jadi pengen ke Pare, kan.

 

Pare? Mungkin aja selain pilihan Jogja. Kota Gudeg itu menarik sih. Bisa jadi pilihan sepertinya. 🙂

Diposkan pada Curhat

Menyelesaikan Perasaan

Screenshot_2017-06-07-20-24-00_1

Kamu tahu tentang tulisan ini?

Ini tulisan seseorang yang pernah kujadikan tujuan selama 2 tahun lalu dan beberapa bulan lalu, kuputuskan untuk menyudahinya. Tidak baik terlalu mengharapkan orang setinggi dia, baik kesholehan maupun kebaikan lainnya.

 

Maaf, aku memang sudah menyelesaikan perasaan itu, sebuah kecendrungan yang seharusnya tidak perlu dilanjutkan. Namun, aku masih membuka blognya. Membaca tulisannya itu meski tahu itu menampar diri. Dia terlalu baik untuk orang semacam diriku. Jadi, mari benar-benar sudahi.

 

Ngga selesai-selesai urusan perasaan. Gimana kalo jodoh datang, tapi perasaan yang ngga jelas belum usai. Ramadan ini sih seharusnya aku menyelesaikan perasaan ini.

Diposkan pada Curhat

Menyerah

Pernah ingat dengan ceritaku tentang seseorang yang dituju olehku? Lelaki yang tulisannya selalu kutunggu. Lelaki yang membuatku ingin menjadi orang baik. Ya, lelaki sholeh itu. Aku telah menyerah, bukan berarti aku berhenti belajar menjadi baik, ya.

Kamu tahu, kenapa aku menyerah? Dia membuktikan kata-katanya. Dia ingin menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu. Oh ya, jangan berpikir aku berhubungan dengannya, ya. Aku tahu dari perantaranya. Perantara itu menyampaikan ke perantaraku tentang kata-katanya itu. Waktu itu, aku biasa saja, menerima keputusan itu. Toh, perantaraku juga yang menawarkan lelaki itu. Sungguh, aku tidak ada hati kepadanya. Aku baru menjadikannya semacam tujuan karena pertemuan 2 tahun lalu di pernikahan seorang teman. Singkat cerita, aku mulai kagum dengannya sejak saat itu.

Namun, sekitar 3 atau 2 bulan lalu, aku memutuskan tidak menujunya lagi. Pertama, dia akan menyelesaikan studi lanjutannya di luar negeri. Kedua, sukunya. Ketiga, kami tidak saling mengenal sebenarnya. Ini jadi semacam aku ngefans sama orang. Jadi, buat apa menunggu sesuatu yang sangat absurd. Dia tidak kenal aku. Kalau tahu, sepertinya dia tahu aku.

Lantas jika aku menyerah siapa tujuanku? Kamu, pasangan halalku yang sungguh ku tak tahu siapa engkau. Yang pasti, kau sedang menuju pada jalan yang sama, kan?

Diposkan pada Curhat

Kembali

Suatu malam, kubacakan surat-surat pendek untuk keponakanku. Ketika membacakan surat-surat pendek itu, aku tersadar hapalanku banyak yang menguap. Banyak surat-surat pendek yang kulupa. Hiks… sudah sangat jauh ternyata. Aku sudah sangat jauh pergi meninggalkan kesholehan itu.

Hapalanku, shaum sunahku, tilawahku, semua menguap. Ah, shaum sunah? Utang shaum wajib saja belum tuntas kubayar.

Terlampau banyak dosa yang kuperbuat. Banyak kemalasan yang telah kuturuti. Lantas bisakah kukembali pada jalan itu?

Bisa. Bisa, Fin. Engkau hanya perlu memperbaiki lalu meningkatkan ibadahmu. Meninggalkan dosa itu. Melawan kemalasan itu.

Diposkan pada Curhat, Journey to Samara

Mengulang Definisi Tentangmu

Di perjalanan ini, aku terhenti

mengulang kembali

tentang definisi

kamu yang kutuju.

Seperti apa

kamu yang kumau,

yang kubutuhkan?

 

Ada yang bilang ini soal penyatuan jiwa

jadi kriteria duniawi bukan yang utama.

Lantas, apa aku harus menyederhanakan tentangmu?

Entahlah.

Aku juga bingung, namun satu yang pasti:

definisimu itu harus tetap sholeh dan berpendidikan.

Kamu, setidaknya sekufu denganku dalam pendidikan

agar kamu tetap kepala dalam keluarga kita,

kamu tetap imamku dan anak-anak kita.

Aku tidak ingin diriku lalai saat emosi memuncak,

mungkin, kala kita bertengkar.

 

Aku tidak ingin lalai

lantas membawa pendidikanmu yang di bawahku

saat pertengkaran datang.

Kita tidak tahu kan tentang diri kita

ke depannya?

Ke depannya, apa pun bisa terluapkan saat emosi memuncak

dan aku tidak menginginkan itu,

aku tidak ingin diriku merendahkanmu.

 

Memangnya, kejadian semacam itu pernah ada?

Pernah.

Aku pernah menyaksikannya

dan aku tidak mau seperti itu.

Kamu juga kan?

 

Jadi, bisa kan aku mendefinisikanmu dengan dua kriteria itu?

Diposkan pada Curhat

Menanti Tulisannya

Lagi-lagi judulnya kayak salah satu judul “bab” di buku Kurniawan Gunadi. Entahlah, aku hanya merasa perasaanku terwakilkan di sana meski semua isinya tidak mencerminkan yang aku rasakan.

Alasannya?

Pertama, dia bukan orang yang mencurahkan perasaannya di sosial media dan blognya. Membaca tulisannya justru membuat pembacanya tergugah untuk memperbaiki diri atau meningkatkan keimanan. Itu sih yang aku rasakan sebagai pembacanya.

Kedua, dia bukan tipe orang yang sedikit-sedikit sosmed. Kegiatannya hanya sedikit terlihat di sosmed. Itu pun lebih sering orang lain yang nge-tag tentangnya.

Meskipun demikian, aku tetap menanti tulisannya. Membaca apa yang dipikirkannya.

Haha… seperti pengagum rahasia? Hmm… mungkin terlihat seperti itu. Biarlah. Nyatanya, dia itu memamg terlampau tinggi untukku, ya… jika aku tidak meningkatkan kualitas diri.

High quality single man, itu gelar yang tepat untuknya. Dengan segudang prestasinya, dia layak dikatakan demikian. Kesholehannya juga menjadi alasan dia digelari itu.

Kata temanku, dia menjadi incaran akhwat-akhwat UI. Hmmm… aku rasa bukan hanya akhwat UI. Sangat mungkin perempuan lain yang pernah mengenalnya. Mungkin teman-teman LPDP-nya.

“Menyerah karena semua itu?” Begitu pertanyaan salah satu teman kantorku ketika aku bercerita tentangnya, tentang orang yang kutuju. Bukan menyerah, tapi realistis. Aku tidak terlalu berharap, toh aku hanya berkecenderungan kepadanya. Namun, aku tetap berusaha. Berusaha lebih baik dan meningkatkan kualitas diri. Berusaha menyamainya. Jika nanti tidak berjodoh dengannya, aku (berharap) tidak kecewa. Segala usaha itu tidak akan sia-sia. Menjadi lebih baik dan kualitas diri meningkat, bukankah itu baik?

Diposkan pada Kelana

One Day Trip ke Sukabumi Hanya Seratus Ribuan

Perjalanan ke Sukabumi akhirnya terlaksana. Empat hari sebelum perjalanan, tiket dipesan secara online. Sebaiknya, beli di web KAI karena ada diskon channel. Selain itu, belinya jauh-jauh hari agar lebih banyak pilihan bangku (ngga cuma yang sisa aja). Pastikan juga waktu dan tempat keberangkatan serta kepulangan. Setelah itu, pastikan kode pembayarannya benar. Ini dilakukan untuk mencegah pembelian tiket yang salah, seperti tanggal, waktu, atau tempat keberangkatan.

Berhubung tiket kepulangan saya dan teman-teman ada kesalahan waktu jadi saya harus ke Stasiun Paledang pada Rabu, 14 Oktober 2015. Alhamdulillah, hari itu libur 1 Muharam jadi bisa urus tiket. Saat mengurus tiket yang salah itu, saya pertama kali ke Stasiun Paledang. Bingung? Alhamdulillah pernah baca-baca perjalanan orang ke Sukabumi jadi tahu letak stasiun itu. Stasiun itu benar-benar terletak di belakang Gedung Taman Topi (KFC). Sebelum urus tiket yang salah, saya minta cetak tiket. Setelah itu, menukar tiket pulang yang salah dari tanggal 18 Oktober menjadi 17 Oktober. Prosesnya cepat, hanya perlu bayar administrasi.

Bogor: Sabtu, 17 Oktober 2015

Hari yang ditunggu datang, sejak pagi saya sudah berangkat dari rumah. Saat itu, saya berangkat dari Stasiun Tebet sekitar Pkl06.00. Sekitar waktu itu, ada 3 kereta ke Bogor. Kedua teman saya berangkat dari Depok. Sekitar pkl07.00 lewat (banget), kereta sampai di Stasiun Bogor. Nah, berhubung sudah cetak tiket dari jauh-jauh hari. Jadi, tidak terburu-buru sampai di stasiun. Kami cukup santai pagi itu.

Sekitar pkl07.30, kereta Pangrango datang dari Sukabumi di Stasiun Paledang, tapi masuk Stasiun Bogor dulu untuk pembersihan. Jadi, kami tidak bisa langsung naik dan harus menunggu. Berhubung belum sarapan, saya beli ketupat tahu plus telor  di tempat makan dekat Stasiun Paledang, seharga Rp10.000. Kedua teman saya sudah beli makanan di Depok.

Pkl 08.00 lebih, kereta baru melaju dari jadwal seharusnya Pkl 07.55. Hari ini juga, kereta penuh karena kursi terjual habis. Sebagian besar penumpang yang terlihat ingin jalan-jalan seperti saya dan teman-teman. Di antara mereka, ada yang ingin ke Gunung Padang, Cianjur.

Pemandangan pertama yang tersaji berupa pemandangan yang umum terlihat, seperti permukiman penduduk. Baru hampir setengah perjalanan, baru tersaji pemandangan gunung dan sawah. Ada persawahan yang hijau, tapi tidak sedikit lahan yang kering.

Sukabumi

Kali ini, kereta mengalami ketelatan. Sekitar pkl10.30, kereta sampai di Stasiun Sukabumi. Berhubung waktu yang sempit, perjalanan kali itu tidak terlalu banyak dan fokus pada tujuan awal—kulineran. Perjalanan pun dimulai berdasarkan tulisan orang-orang di berbagai blog yang disesuaikan budget dan keinginan tempat yang ingin dikunjungi. Berikut ini tempat tujuan saya.

1. Bubur Bunut

Awalnya, pengen bubur bunut yang banyak dibahas para bloger. Namun, kami nyasarke arah alun-alun. Jadilah, makan bunut di Jalan Siliwangi. Tampilan dan harganya tidak jauh berbeda dengan bunut yang seharusnya kami datani. Nah, karena tidak suka bubur, akhirnya saya minum jus stroberi yang ternyata dapat menganjal perut sampai sore.

Harga bubur: Rp16.000

Jus stroberi/mangga: Rp13.000

2. Mochi Lampion

Dari bunut, kami menuju Mochi Lampion di Jalan Bhayangkara. Bunut yang tadi kami datangi berada tidak jauh dari Yogya Departemen Store. Dari Yogya Departemen Store itu, kami naik angkot putih no.14 dan turun di gapura bertuliskan Wisata Kuliner Kaswari. Bilang saja kepada supir angkotnya bahwa kita mau ke Mochi Lampion. Nanti, mereka akan menurunkannya di sana. Ongkosnya Rp4.000 saja (jauh dekat ongkosnya sama). Dari gapura itu, akan terlihat papan besar bertuliskan Mochi Lampion Kaswari di kiri jalan. Di sampingnya juga, ada mochi kaswari dengan merek lain. Silakan jika ingin coba karena sekitar Jalan Bhayangkara itu memang banyak terdapat penjual mochi.

Mochi berbagai rasa dengan kotak tradisional/modern: Rp35.000/kotak

Mochi berisi duren dengan kotak modern: Rp40.000/kotak

Es krim mocha berbagai rasa: Rp8.000/buah

Cilok: Rp5.000

Waktu itu, saya gatal ingin beli cilok di depan toko. Pas beli, nyesel. Rasa dan teksturnya aneh. Enakan cilok di dekat Stasiun Pondok Cina, Depok.

3. Maung (Mami Ungu)

Tadinya mau ke tempat ini, tapi kami lebih tertarik ke jalan ala-ala di sekitar SMA 4 dan SD di Jalan Juanda (sebelumnya, kami lupa nama SMA dan jalannya, baru tahu itu SMA 4 dan Jalan Juanda setelah ada di sana). Oh ya, tempat makan Maung itu menyediakan nasi uduk berwarna unggu yang dihasilkan dari ubi ungu. Selengkapnya, silakan cari di google karena banyak bloger yang bahas.

4. Jajanan Ala-Ala

Dari Mochi Lampion, kami berjalan kaki ke arah kiri dari depan gapura persis, menyusuri rute angkot sebelum kami sampai di Mochi Lampion. Sebenarnya, jalan kaki itu untuk mencari angkot menuju tempat jajanan ala-ala di depan sekolah. Angkot tidak nemu-nemukarena sebenarnya kami lupa nama SMA dan jalannya, hanya ingat bahwa jalan itu dilalui angkot sebelum ke Mochi Lampion. Akhirnya, kami jalan terus sampai di pertigaan besar pertama. Di sana, kami melihat bubur bunut yang tadinya kami inginkan, tapi ya sudahlah, sudah makan juga dan harganya tidak jauh beda. Jadi, kami meneruskan jalan kaki hingga pertigaan kedua. Di kanan jalan, kami beristirahat untuk sholat dan meluruskan kaki.

Selesai istirahat, kami memilih jalan kaki karena tidak yakin dengan rute angkot (ya… daripada nyasar). Dari masjid, kami menyeberang. Sekitar 1 km dari masjid itu, terdapat sebuah tulisan KUSUKABUMIKU. Kami memutuskan masuk ke jalan itu. Alhamdulillah, ternyata itu tempat jajan ala-ala.

Kenapa kami ingin makan di tempat jajan ala-ala. Pertama, ada bloger yang pernah makan di sana. Kedua, tempat itu lebih menarik daripada tempat tujuan kami sebelumnya, kecuali Mochi Lampion. Di sana, banyak terdapat makanan. Dari makanan Korea sampai makanan (jajanan) khas Sunda, seperti lumpia basah, cilok, batagor, tahu pedas, dan lain-lain. Harganya? Sesuai kantong pelajar, ya … namanya juga kawasan para pelajar (SMA dan SD).

 

Apa saja yang saya dan teman-teman beli?

Odeng: Rp10.000

Rasanya lumayanlah.

Air mineral: Rp4.000

Sebelumnya, saya tidak beli minum karena membawa infuse water cukup banyak.

Bibimbab: Rp15.000

Lumpia basah: Rp6.000

Tahu pedas aneka isi: Rp3.500

Makanan yang direkomendasi:

  1. Tahu pedas aneka isi karena enak, besar, dan murah. (Ini saya yang beli)
  2. Bibimbab karena enak dan murah. (Teman yang beli, tapi saya makan juga, hehe)
  3. Lumpia basah. (Teman yang beli, tapi saya icip aja)

Pulang

Di depan penjual tahu isi, kami naik angkot menuju stasiun. Pas di angkot dan lihat rutenya, baru tahu ternyata bisa jalan kaki. Dari Jalan Juanda itu, cukup menyebrang dan lurus terus sampai pasar di ujung jalan. Tinggal belok ke kanan sedikit, sampailah di stasiun.

Berhubung masih sekitar 1 jam lagi kereta datang, saya dan teman-teman memilih beristirahat di musola stasiun. Setelah sholat Azar, kami keluar untuk foto-foto di stasiun. Saat itu, kereta baru saja datang. Kami foto-foto di atas kereta yang masih sepi. Baru hampir pkl16.00, kereta berangkat. Namun, berhenti cukup lama di stasiun setelah gangguan. Karena gangguan ini, kereta sangat terlambat datang ke Stasiun Paledang.

Tips

  1. Beli tiket di web PT KAI, siapa tahu dapat diskon chanel. Harga tiket bisa Rp20.000/sekali perjalanan. Beli dari jauh-jauh hari juga agar mendapat tempat duduk terbaik (tempat dengan pemandangan yang bagus terletak pada tempat duduk dua berhadapan).
  2. Bawa minum karena mengirit biaya minum.
  3. Tanyakan pada orang yang benar-benar tahu Sukabumi, coba ingat-ingat teman yang bisa ditanyakan soal kota itu. (Setelah upload foto di IG, teman kuliah yang orang Sukabumi merekomendasikan makanan enak yang belum pernah dibahas para bloger.)
  4. Buat beberapa rencana perjalanan karena kita tidak dapat memastikan sesuatu yang terjadi di depan, misalnya kereta telat atau nyasar.
  5. Tidak perlu khawatir/takut mencoba tempat yang baru atau tidak pernah dibahas para bloger, intinya berani eksplor.
  6. Sesuai tujuan wisata dengan budget dan selera—terlebih soal makanan.

Demikian, one day trip dengan budget yang rendah. Dalam perjalanan itu, saya hanya menghabiskan sekitar Rp150.000 termasuk sarapan pagi dan oleh-oleh (1 kotak mocha lampion).

 

*Sebenarnya, ada foto tulisan KUSUKABUMI dan foto pendukung lainnya, tapi tidak bisa dimasukkan karena posisinya tidak enak dilihat. Mungkin, ada yang bisa bantu jika saya ingin rotate.