Diposkan pada Cerita Fiksi Bersambung, Journey to Samara

Kisah Ta’aruf (Part 1)

Hujan mulai turun perlahan, Dhifi mempercepat langkahnya untuk memasuki mesjid. Sesampainya di mesjid, matanya menyapu lorong di lantai 1. Tidak ada satu pun orang yang dikenalnya. Dilihat hp yang sedari tadi digenggamnya, beberapa pesan masuk.

Lara Pkl15.47

Udah ketemu sama ikhwannya?

 

Dhifi Pkl16.01

Baru nyampe mesjid. Ga ada siapa-siapa.

 

Lara Pkl16.02

Lue ga nyasar kan? Coba cek di mesjid apa?

 

Dhifi Pkl16.02

Bener kok. Gue cek wa-nya dulu.

 

Lara Pkl16.03

Kan, ntar salah lagi. 

 

Dhifi membuka pesan dari sang perantara yang tidak lain dan tidak bukan adalah seniornya di kampus. Benar, mesjid ini yang dimaksud, tapi kok belum ada, ya. Karena tidak ada kabar, Dhifi menulis pesan ke wa perantaranya.

Dhifi, Pkl16.05

Mba, aku udah di mesjid, ya.

 

Lama tidak ada balasan. Last seen wa-nya Pkl15.00. Itu artinya chat terakhir saat dia mengabarkan akan jalan ke mesjid dengan ojek online. Pesan terakhirnya, perantara itu mengabarkan dirinya juga sedang siap-siap berangkat.

Lara, Pkl16.10

Gimana?

Salah tempat ga lue? 

 

Dhifi, Pkl16.10

Bener kok, Ra. Gue udah wa mbanya, tapi belum dibaca. Masih di jalan kali.

 

Belum sempat dibacanya pesan balasan Lara, Dhifi mendapat telepon dari perantaranya. Dia mengabarkan ikhwannya di mesjid satu lagi dan sang perantata juga tidak bisa masuk ke mesjid karena jalan masuknya ditutup. Jadi, mau tidak mau, tempatnya pindah ke mesjid yang sudah didatangi ikhwannya.

 

Sekitar 1 km, Dhifi berjalan dari mesjid satu ke mesjid satunya lagi. Bersyukur hujan masih tetap rintik-rintik jadi dia tidak perlu basah kuyup. Sepanjang jalan, Dhifi merasa deg-degan. Soalnya, ta’aruf pertamanya untuk tahap bertemu langsung. Sebelum-sebelumnya, hanya sampai tahap tukeran biodata. Kenapa? Kadang Dhifi yang meminta tidak lanjut, kadang juga ikhwannya yang meminta tidak lanjut.

 

Begitu memasuki mesjid yang dituju itu, Dhifi melihat sang perantara di lorong sebelah kanan mesjid. Di sana, terdapat 3 orang yang sedang asyik mengobrol.

 

“Assalamualaikum, Mba Ajeng…” Dhifi memberi salam kepada sang perantara, tetapi ketiganya menoleh ke arahnya.

“Wa’alaikumsalam wr.wb. Eh, Dhifi. Maaf, ya, jadi pindah tempat,” Mba Ajeng merasa bersalah.

“Ngga apa-apa, Mba. Itung-itung olahraga.”

 

Dhifi mengambil tempat duduk di samping Mba Ajeng. Di depan mereka, dua orang ikhwan duduk. Yang satu itu suaminya Mba Ajeng dan yang satunya lagi yang sedang proses dengan Dhifi.

 

Sekilas, Dhifi melihat ikhwan itu. “Dewasa banget,” begitu katanya dalam hati. Tidak lama, dia kembali tertundu. Pandangannya tertuju pada tas ranselnya.

 

Doa pembuka majelis dilantunkan oleh suami Mba Ajeng. Setelahnya, dia buka semacam sesi tanya-jawab. Sang ikhwan yang lebih dulu bertanya karena Dhifi masih bingung.

 

Hampir 2 jam sesi tanya-jawab itu berlangsung. Kalau dihitung-hitung, pertanyaan Dhifi jauh lebih banyak dan lebih terkesan childist meskipun awalnya dia bingung. Sampai malu sendiri kalau diingat-ingatnya ketika selesai ketemuan itu.

 

Pertanyaan yang paling childist itu tentang izin untuk dirinya jalan-jalan. Sebelumnya, Dhifi memang suka jalan-jalan. Dalam setahun, bisa minimal 2 kali jalan-jalan dengan menginap beberapa hari. Biasanya, itu dilakukan Dhifi bersama teman-temannya.

 

Hidupnya terasa tidak hambar dengan jalan-jalan itu. Jiwanya jadi bisa sangat bersemangat ketika mencari tiket dan hotel apalagi promo. Dia juga sangat antusias ketika membuat itinarary.

 

Bukan hanya malu dengan pertanyaan childist-nya, Dhifi juga tidak yakin ikhwannya akan lanjut. Eh, tunggu dulu. Berarti Dhifi mau lanjut dengan ikhwannya? Tidak juga. Dia masih ragu. Oleh karena itu, dia butuh waktu untuk istiqoroh.

 

Sambil istiqoroh, dia mengevaluasi dirinya tentang kesiapan menikah, menerima pasangan, dan pastinya kedewasaan. Kalau memang tidak lanjut, setidaknya, Dhifi jadi tahu pertanyaan yang seharusnya diutarakan saat bertemu langsung pada proses ta’aruf.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Diposkan pada Curhat, Journey to Samara

Ta’aruf (Lagi)

Tiba-tiba saja Senin lalu, saudaraku menawarkan seorang ikhwan untuk ta’aruf denganku. Sebenarnya tidak tiba-tiba juga karena aku sudah diberitahu, tapi aku pikir angin lalu. Biasanya teman-temanku begitu. Seperti angin lalu saja setelah menawarkan. Aku sendiri sudah terbiasa dan tidak mau membebankan. Soalnya, pernah seorang teman yang bilang, “Minta bantuan sama kak X aja.” Dari ucapannya itu, aku menangkap dia keberatan. Jadi, sejak saat itu, aku berhati-hati jika ingin meminta teman untuk mencarikan. Ya paling basa-basi obrolan saja.

 

Oke balik lagi soal ta’aruf lagi. Terhitung 3 hari ini, pikiran bergelut tentang itu. Tidak ada alasan syar’i untuk tidak melanjutkan. Agamanya bagus, begitu juga sikapnya. Setidaknya, itu informasi yang kutahu dari biodata dan orang yang kenal dia. Namun, ada satu yang mengganjal.

 

Karena satu hal yang mengganjal itu, aku jadi bimbang. Konsultasilah ke guru ngaji dan teman-teman. Hasilnya? Ada beberapa poin meski belum jawaban “aha” yang didapat.

Salah satunya soal komunikasi dan kenyamanan. Berhubung belum pernah komunikasi, akhirnya aku memutuskan untuk lanjut proses. Proses selanjutnya adalah bertemu secara langsung. Pada proses itu, aku bisa menilai tentang komunikasi dan kenyamanan itu.

 

Kata seorang teman, komunikasi dan kenyamanan itu penting. Saat mengurus anak, fokusnya sudah beda. Jadi, komunikasi dan kenyamanan perlu diawal pernikahan. Selain itu, komunikasi dan kenyamanan ini juga penting untuk hidup bersama sampai hari tua atau ajal memisahkan.

 

Salah seorang teman juga bilang, tidak ada penerimaan selama 100%. Pasti ada kriteria yang tidak terpenuhi. Kalau sudah 85%, terimalah. Nah, 85% ini bisa terjawab jika aku sudah bertemu dia. Saat bertemu, aku bisa tahu soal komunikasi dan kenyamanan.

 

Oh ya, karena ta’aruf ini, aku jadi banyak lihat ceramah di Youtube. Katanya, sebenarnya Allah sudah membukakan jodoh kita, tapi kitanya yang sering nolak. Ada X yang sekampus, memilih tidak lanjut. Ada Y yang sederajat pendidikannya, memilih tidak lanjut. Jleb banget. Eh, tapi ga selalu aku yang memilih tidak lanjut. Ada 1 ikhwan yang kupilih lanjut, tapi ikhwannya ga lanjut. Ketinggian juga sih karena dia kuliah di US jadi agak mikir kali ya kalo nerimaku. Terus ada juga ikhwan yang 50:50. Maksudnya, aku ga nolak, tapi ragu untuk lanjut. Nah, model begini sebenarnya aku pilih ikuti keputusannya. Kalo lanjut, ya. Kalo ga lanjut, ya. Lebih enak dan plong gitu karena aku ga bisa pilih ga lanjut, soalnya ga ada alasan syar’i. Jadi kalo ikhwannya yang batalin, berasa ga dosa dan senang sebenarnya.

 

Nah, ta’aruf lagi ini juga bikin gue intropeksi, “Kok ga ada yang langsung sreg gitu? Apa ada yang salah dengan gue? Sebenarnya, mau yang seperti apa?”

 

Diposkan pada Curhat, Journey to Samara

Waktu dan Jodoh

Aku pernah berdoa agar dapat menikah tahun ini, berharap akhir tahun ini. Namun, Allah menakdirkan lain. Kakak tertuaku justru yang akan menikah akhir tahun nanti. Hmm… mungkin akhir tahun ini memang bukan terbaik untukku. Mungkin lelaki yang dipersiapkan Allah itu masih mempersiapkan, entah apa itu. Aku percaya Allah akan mendatangkan dirinya, entah kapan itu.

 

Lantas aku sedih? Tidak. Aku tidak sedih. Sebaliknya, aku lebih tenang soal jodoh. Aku sudah pada titik pasrah. Terserah Allah, semua diserahkan saja kepada-Nya.

 

Tahun ini, aku banyak menjalani proses ta’aruf atau coba dijodohkan dengan ikhwan/lelaki biasa. Proses terakhir saat penghujung ramadan lalu menjadi pelajaran untukku. Sedikit banyak, aku belajar tentang kriteria pasangan, penerimaan jika kriteria ada yang tidak sesuai, ketenangan dalam proses, dan lain-lain. Karena ta’aruf itu juga, aku belajar untuk tenang dan pasrah dalam perjalanan menuju pernikahan ini. Tidak terlalu dipusingkan dengan “Kapan nikah?” Aku memilih untuk menikmati hidup. Tidak terlalu merisaukan soal umur karena sekeras apa pun kita berusaha jika belum waktunya maka tidak akan terjadi, kan. Jadi, mari syukuri yang ada. Semua pasti ada hikmahnya. 🙂

Diposkan pada Curhat

Kehilangan?

IMG_20170724_175906_739_20170725182744341

 

“Kita ngga bisa sering-sering main dengan X karena sekarang dia di pesaing. Ngga enak sama bos, khawatir (sensor).”

Mendengar kalimat itu, aku jadi khawatir. Pasalnya, setelah resign di Agromedia, aku menerima tawaran Sarah untuk bekerja di penerbitnya. Alasannya? Hanya ngantor seminggu sekali dan bukunya bergenre anak serta parenting. Aku suka genre itu selain aku punya waktu yang leluasa untuk mengerjakan tugas kantor dan belajar bahasa Inggris.

 

Ya, aku ingin belajar bahasa Inggris biar bisa dapat beasiswa, setidaknya aku bisa S2 di UI dengan beasiswa LPDP. Ini juga salah satu usahaku untuk merealisasikan impian sekaligus memantaskan diri (aku ingin pasangan yang berpendidikan selain agama dan akhlak tentunya). Sungguh aku tidak bohong. Soal aku bekerja di penerbitnya Sarah karena dua hal tadi. Dan, itu datang bersamaan. Maksudnya, aku memang ingin resign dan belajar bahasa Inggris, tapi butuh pekerjaan dan sesuai pasionku. Lalu, datanglah tawaran dari Sarah. Pas sekali kan.

 

Jujur, satu hal yang dikhawatirkan dari bekerja di penerbitnya Sarah: kehilangan teman-teman di Agromedia (KP Grup). Jika mereka tahu, entahlah masih bisa main bareng atau ketemuan ngga. Aku sendiri ga akan ngomongin penerbitnya Sarah dan ga juga nanya-nanya soal buku di sana. Intinya, main atau ketemu tanpa ngomongin pekerjaan.

 

Gimana pun juga, aku sayang teman-teman di Agromedia walaupun gimana keadaannya. Jadi, khawatir kehilangan mereka. Nah, soal kenapa aku resign dari sana padahal sayang sama teman-temannya, ada banyak penyebab yang ga bisa dijelasin. Itu pilihan sulit sebenarnya, tapi aku harus memilih. Ya, sulit karena awal-awal resign, aku terbangun malam hari lalu menyadari udah ga bersama mereka lagi, itu rasanya jleb gitu. Sedih. Ya, tapi mau gimana lagi. Ini pilihan. Aku harus maju ke depan.

 

Berulang kali, aku yakinkan hati bahwa “pengorbanan” ini ga boleh sia-sia. Aku harus berkarya jauh lebih baik dan berhasil menggapai impian S2 dengan beasiswa. Namun, aku berharap tidak kehilangan mereka.

Diposkan pada Curhat

Proses yang Tidak Lanjut

Sehari sebelum menerima kabar dari ikhwannya, aku bermimpi cukup aneh. Aku dibawa oleh seseorang yang dikenal ke rumahnya, bertemu ibunya. Entahlah kenapa bisa begitu. Keesokan paginya, ikhwan itu memutuskan tidak lanjut. Aku sendiri memilih tidak menolak maupun mengiyakan. Tidak menolak karena tidak ada alasan syar’i dalam biodatanya untuk ditolak. Tidak mengiyakan karena masih ada yang mengganjal, misalnya apakah dia merokok atau tidak dan sesuatu yang mengganjal pikiranku, sesuatu yang mungkin bisa menjadikanku tidak baik jika menjadi istrinya.

Bersyukur ikhwan itu memilih tidak melanjutkan proses setelah tukaran biodata. Entah mengapa, aku berpikiran cara untuk tidak melanjutkan. Astagfirullah, mungkin imanku sedang lemah jadi lupa mengikutsertakan Allah. Pengennya tidak lanjut. Jadi, bersyukur ketika ikhwan itu memilih tidak lanjut.

 

Lalu, bagaimana dengan rencana menikah di akhir tahun ini?

Aku serahkan semuanya kepada Allah. Tugasku hanya yakin bahwa Allah akan mengabulkan segala doaku.

 

 

Dari proses ini juga, aku belajar tentang apa itu ketenangan dan berkompromi dengan diri sendiri ketika ada orang yang datang tidak sesuai kriteria.

Diposkan pada Journey to Samara

Proses Ini

Tepat menjelang malam ke-27 Ramadan, aku menerima sebuah biodata laki-laki yang insyaallah sholeh. Saat itu, aku memang sudah selesai dengan perasaanku kepada lelaki lain.

Malam ke-25 Ramadan, perasaan itu telah usai seiring kepasrahanku kepada-Nya. Aku pasrah tentang segala hidup, terlebih jodoh. Aku tidak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sulit, seperti nanti gimana ya atau mungkin ngga ya. Tidak, aku tidak ingin begitu. Aku berusaha untuk pasrah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan keinginan baik (insyaallah) dan doa-doaku.

 

Dua hari setelah kepasrahan itu, tidak disangka guru ngajiku dulu menawarkan seorang lelaki. Hanya beberapa jam setelah percakapan via WA, aku sudah menerima dan membaca biodata itu. Biodataku sendiri, jika tidak salah, dikirim ke guru ngajiku itu lepas terawih.

Lalu, pagi ini, hari ke-29, aku memberikan jawaban tentang lanjutkan proses ini atau tidak. Jawaban itu diperoleh setelah istiqoroh, doa-doa panjang, dan perenungan. Apa pun hasilnya nanti, ya atau tidak lanjutnya proses ini, hidupku akan sama: sama-sama berproses menjadi baik.

Diposkan pada Curhat

Menyegarkan Diri

Jpeg

Agustus nanti selepas resign dari kantor, ingin rasanya tinggal di desa yang udaranya sejuk dan bisa lihat gunung. Pulang ke Jakarta kalo ada meeting di kantor aja. Ya, seminggu sekali atau dua minggu sekali.

 

Kepenatan Jakarta dan rumah, cukup membuatku pusing. Stres lama-lama. Jadi, aku ingin menepi sejenak. Sekitar 1-3 bulan atau mungkin 6 bulan. Haha… jadi pengen ke Pare, kan.

 

Pare? Mungkin aja selain pilihan Jogja. Kota Gudeg itu menarik sih. Bisa jadi pilihan sepertinya. 🙂

Diposkan pada Curhat

Kembali

Suatu malam, kubacakan surat-surat pendek untuk keponakanku. Ketika membacakan surat-surat pendek itu, aku tersadar hapalanku banyak yang menguap. Banyak surat-surat pendek yang kulupa. Hiks… sudah sangat jauh ternyata. Aku sudah sangat jauh pergi meninggalkan kesholehan itu.

Hapalanku, shaum sunahku, tilawahku, semua menguap. Ah, shaum sunah? Utang shaum wajib saja belum tuntas kubayar.

Terlampau banyak dosa yang kuperbuat. Banyak kemalasan yang telah kuturuti. Lantas bisakah kukembali pada jalan itu?

Bisa. Bisa, Fin. Engkau hanya perlu memperbaiki lalu meningkatkan ibadahmu. Meninggalkan dosa itu. Melawan kemalasan itu.

Diposkan pada Curhat, Journey to Samara

Mengulang Definisi Tentangmu

Di perjalanan ini, aku terhenti

mengulang kembali

tentang definisi

kamu yang kutuju.

Seperti apa

kamu yang kumau,

yang kubutuhkan?

 

Ada yang bilang ini soal penyatuan jiwa

jadi kriteria duniawi bukan yang utama.

Lantas, apa aku harus menyederhanakan tentangmu?

Entahlah.

Aku juga bingung, namun satu yang pasti:

definisimu itu harus tetap sholeh dan berpendidikan.

Kamu, setidaknya sekufu denganku dalam pendidikan

agar kamu tetap kepala dalam keluarga kita,

kamu tetap imamku dan anak-anak kita.

Aku tidak ingin diriku lalai saat emosi memuncak,

mungkin, kala kita bertengkar.

 

Aku tidak ingin lalai

lantas membawa pendidikanmu yang di bawahku

saat pertengkaran datang.

Kita tidak tahu kan tentang diri kita

ke depannya?

Ke depannya, apa pun bisa terluapkan saat emosi memuncak

dan aku tidak menginginkan itu,

aku tidak ingin diriku merendahkanmu.

 

Memangnya, kejadian semacam itu pernah ada?

Pernah.

Aku pernah menyaksikannya

dan aku tidak mau seperti itu.

Kamu juga kan?

 

Jadi, bisa kan aku mendefinisikanmu dengan dua kriteria itu?